I.
Teori Tentang Upah
1. 2 Teori Tentang Upah
a. Teori Tawar Menawar atau Teori Pasar
Penghitungan upah tenaga kerja dengan
menggunakan konsep ini adalah menentukan upah berdasarkan hasil negosiasi
antara karyawan sebagai penjual jasa tenaga dengan perusahaan yang bertindak
sebagai pembeli jasa. Sehingga tingkat upah yang akan diterima olah kandidat
pekerja ditentukan oleh bargain power dari si calon pekerja.
b. Teori
Kompensasi Standar Hidup
Berdasarkan teori ini, anda diwajibkan
memberikan upah pekerja untuk bisa hidup dengan layak. Selain memberikan upah
yang layak kepada si karyawan, anda juga harus menyediakan berbagai tunjangan
seperti asuransi kesehatan, pendidikan, atau perumahan. Dengan fasilitas yang
‘wah’ ini tentu saja si karyawan dituntut harus mempunyai skill dan ketrampilan
dengan kategori excellent. Biasanya perusahaan-perusahaan PMA dengan skala
raksasa yang mampu menerapkan teori ini. Penentuan gaji dengan teori ini harus
menghitung masing-masing item yang menjadi standar hidup si calon karyawan.
2. Perbedaan Antara Upah dengan Konpensasi
a. Upah
Dewan Penelitian Pengupahan
Nasional dalam (Husnan 1990: 138) mendefinisikan bahwa upah adalah suatu
penerimaan sebagai suatu imbalan dari pemberi kerja kepada penerima kerja untuk
suatu pekerjaan/jasa yang telah dan akan dilakukan ber-fungsi sebagai jaminan
kelangsungan kehidupan yang layak bagi kemanusiaan dan produksi, upah
dinyatakan/dinilai dalam ben-tuk uang yang ditetapkan menurut suatu
persetujuan, undang-undang dan peraturan serta dibayarkan atas dasar suatu
perjan-jian kerja antara pemberi kerja dan penerima kerja.
b. Konpensasi
Menurut Flippo (1987:75-76)
dalam bukunya “Prinsiple of Per-sonal Management” menulis bahwa kompensasi
adalah harga untuk jasa yang diterima atau diberikan oleh orang lain bagi
kepentingan seseorang atau Badan Hukum. Sedangkan menurut Dessler dalam bukunya
Manajemen Sumber Daya Manusia jilid II (1998: 85) menyatakan kompensasi
karyawan adalah setiap bentuk pembayaran atau imbalan yang diberikan kepada
karya-wan dan timbul dari dipekerjakannya karyawan itu, dan kom-pensasi
karyawan mempunyai dua komponen, pertama pemba-yaran keuangan langsung dalam
bentuk upah, gaji, insentif, ko-misi, dan bonus, kedua pembayaran tidak
langsung dalam ben-tuk tunjangan keuangan seperti asuransi dan uang liburan
yang dibayarkan perusahaan.
II.
Pengertian Dari Istilah-istilah
Berikut
a. Outsourcing
Pengertian outsourcing
adalah penggunaan tenaga kerja dari luar perusahaan sendiri untuk melaksanakan
tugas atau pekerjaan tertentu yang spesifik. Dari pengertian tersebut, kita
mendapatkan minimal dua hal yang musti dijelaskan, yaitu perusahaan outsourcing
dan jenis pekerjaan yang umum di serahkan kepada tenaga dari luar tersebut.
Di negara kita, ada
undang-undang yang khusus mengatur mengenai hal ini, yaitu UU No. 13 tahun
2003. Yang membuat sedikit kerancuan adalah tidak ada penyebutan istilah
outsourcing dalam undang-undang tersebut. Yang bisa ditarik dari UU tersebut
adalah outsourcing memiliki dua bentuk, yaitu pemborongan pekerjaan dan
penyediaan jasa pekerja / buruh.
Kita bisa menarik
kesimpulan, yang disebut sebagai Perusahaan Outsourcing adalah perusahaan yang
menyediakan jasa tenaga kerja untuk keahlian pada bidang pekerjaan tertentu
sesuai dengan permintaan perusahaan yang membutuhkannya.
b. Motivation
Motivation adalah Kekuatan
yang menyebabkan individu bertindak dengan cara tertentu. orang punya motivasi
tinggi akan lebih giat bekerja, sementara yang rendah akan sebaliknya. john R.
schemerhorn, et.el. mendefinisikan motivation sebagai mengacu pada pendorong di
dalam diri individu yang berpengaruh atas tingkat, arah,dan gigihnya upaya
seseorang dalam pekerjaannya
c. Job Description
Pada dasarnya definisi atau
pengertian deskripsi pekerjaan (job description) telah banyak dikemukakan oleh
para ahli atau pakar di bidang manajemen sumber daya manusia. Adapun definisi
atau pengertian deskripsi pekerjaan (job description) menurut para ahli atau
pakar, antara lain (1) Werther dan Davis (1989:123) memberikan definisi atau
pengertian deskripsi pekerjaan (job description) dengan mengatakan sebagai
berikut :” A written statement that explain the duties, working condition and
other aspects of a specified job” , atau dalam terjemahan bebasnya dikatakan
bahwa deskripsi pekerjaan (job description) adalah penyataan tertulis yang
menjelaskan tugas-tugas, kondisi kerja dan aspek-aspek lainnya dari suatu
jabatan tertentu. (2) Nitisemito (1992 : 19) memberikan definisi atau
pengertian deskripsi pekerjaan (job description) sebagai penjelasan tentang suatu
jabatan, tugas-tugasnya, tanggung jawabnya, wewenangnya dan sebagainya.
Sedangkan Flippo (1984:11) memberikan rincian bagian-bagian yang biasanya
terdapat di dalam deskripsi pekerjaan (job description) yaitu: (a) Job
identification (identifikasi pekerjaan). (b). Job summary (ringkasan pekerjaan)
; (c). Duties performed (tugas-tugas yang harus dilaksanakan). (d) Supervision
given and received (pegawasan yang diberikan dan diterima) (e).Relation to
other jobs (hubungan denga pekerjaan yang lain) (f). Machines, tools, materials
(mesin, peralatan dan bahan). (g) Working condition (kondisi kerja) (h).
Definitions of unusual terms (definisi dari istilah yang tidak biasa). (i)
Comments that add to and clarify the above (penjelasan yang menambah dan
memperjelas hal-hal di atas) .
d. Separation
separation atau Pemutusan
Hubungan Kerja (PHK) adalah suatu keputusan yang memisahkan antara pihak
organisasi/perusahaan dengan pegawai/individu. PHK dapat terjadi karena
kemauan/inisiatif pegawai itu sendiri maupun pihak organisasi/perusahaan
berdasarkan pertimbangan tertentu.
III.
Produksi Bersih
Produksi bersih adalah strategi
pengelolaan lingkungan yang sifatnya mengarah pada pencegahan dan terpadu untuk
diterapkan pada seluruh siklus produksi. Produksi bersih merupakan sebuah
strategi pengelolaan lingkungan yang bersifat preventif atau pencegahan dan
terpadu yang perlu diterapkan secara terus menerus pada proses produksi dan
daur hidup produk dengan tujuan mengurangi risiko terhadap manusia dan lingkungan
. Hal tersebut, memiliki tujuan untuk meningkatkan produktivitas dengan
memberikan tingkat efisiensi yang lebih baik pada penggunaan bahan mentah,
energi dan air, mendorong performansi lingkungan yang lebih baik, melalui
pengurangan sumber-sumber pembangkit limbah dan emisi serta mereduksi dampak
produk terhadap lingkungan. Produksi bersih berfokus pada usaha pencegahan
terbentuknya limbah, yang merupakan salah satu indikator inefisiensi. Dengan
demikian, usaha pencegahan tersebut harus dilakukan sejak awal proses produksi
dengan mengurangi terbentuknya limbah serta pemanfaatan limbah yang terbentuk
melalui daur ulang. Keberhasilan upaya ini akan menghasilkan penghematan yang
besar karena penurunan biaya produksi yang signifikan sehingga pendekatan ini
dapat menjadi sumber pendapatan. Istilah produksi bersih mulai diperkenalkan
oleh UNEP (United Nations Environment Program) pada bulan Mei 1989 dan diajukan
secara resmi pada bulan September 1989 pada seminar The Promotion of Cleaner
Production di Canterbury, Inggris. Indonesia sepakat untuk mengadopsi definisi
yang disampaikan oleh UNEP tersebut.
IV.
BEBERAPA STRATEGI UNTUK
MENINGKATKAN KEPUASAN KONSUMEN :
1. Berikan produk yang berkualitas,
serta bebas dari kerusakan ataupun kecacatan saat sampai di tangan pelanggan.
Sebaiknya cek terlebih dahulu kualitas produk atau jasa yang akan diberikan
kepada pelanggan
2. Berikan kualitas pelayanan yang
ramah, ketepatan waktu penyampaian, serta menggunakan sistem yang mudah
dipahami para pelanggan. Sehingga para pelanggan tidak merasa kesulitan dengan
pelayanan yang diberikan, baik pelayanan langsung maupun pelayanan online
3. Fokus pada kepentingan atau
pencapaian kepuasan pelanggan, sehingga produk serta pelayanan yang diberikan
dapat memenuhi harapan pelanggan
4. Memperhatikan harga produk maupun
biaya pelayanan yang sesuai dengan kondisi pasar saat ini, serta sesuaikan
dengan nilai produk atau jasa yang ditawarkkan. Karena pelanggan akan
membandingkan antara biaya yang dikeluarkan dengan manfaat yang diperoleh dari
suatu produk
5. Berikan jaminan keamanan dari produk
maupun pelayanan yang diberikan, sehingga para pelanggan percaya dengan produk
ataupun jasa yang ditawakan dan akan terus menjadi pelanggan setia perusahaan
kita. Misalnya dengan mencantumkan ijin dari Badan POM bagi produk makanan dan
obat.
Setelah memiliki beberapa strategi yang
dapat digunakan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan, langkah berikutnya Anda
dapat mengukur kepuasan pelanggan Anda dengan beberapa cara sederhana berikut :
1. Menggunakan sistem saran dan kritik
dari para pelanggan. Misalnya dengan menyediakan kotak saran maupun kritik,
atau menyediakan layanan telepon suara konsumen
2. Dengan mengadakan survey kepuasan
pelanggan. Biasanya dilakukan dengan memberikan kuesioner pada pelanggan yang
sedang membeli produk kita, atau dapat juga melakukan survey dengan melakukan
telepon acak untuk menanyakan pelayanan yang selama ini telah diberikan
3. Dengan mencoba menghubungi kembali
pelanggan yang sudah lama tidak membeli produk kita. Sehingga kita bisa
mengetahui penyebab mereka berhenti berlangganan, apakah karena kecewa dengan
produk kita atau karena ada faktor lain. Sehingga kita dapat mengevaluasi
produk serta pelayanan yang selama ini diberikan Dengan adanya penilaian
kepuasan pelanggan kita dapat mengetahui kebutuhan yang diinginkan para
pelanggan. Yang berpengaruh pula terhadap omset penjualan produk. Untuk itu
berikan pelayanan prima bagi setiap pelanggan Anda, agar mereka merasa senang
dan nyaman dengan produk kita.
Kepuasan pelanggan yaitu respon atau
tanggapan yang diberikan para konsumen setelah terpenuhinya kebutuhan mereka
akan sebuah produk ataupun jasa, sehingga para konsumen memperoleh rasa nyaman
dan senang karena harapannya telah terpenuhi. Selain itu kepuasan pelanggan
juga sering dijadikan sebagai salah satu tujuan utama dari strategi pemasaran
bisnis, baik bisnis yang dijalankan dengan memproduksi barang maupun bisnis
jasa.
Keberhasilan strategi pemasaran suatu
usaha dapat dicapai jika kepuasan pelanggan telah terpenuhi. Namun untuk
memperoleh kepuasan pelanggan tidaklah mudah, karena tiap pelanggan memiliki
tingkat kepuasan yang berbeda – beda walaupun membutuhkan produk yang sama.
Proses pemenuhan kepuasan pelanggan tidak hanya membutuhkan produk atau jasa
yang berkualitas saja, namun juga membutuhkan adanya sistem pelayanan yang
mendukung. Sehingga para pelanggan akan merasa senang dengan produk atau jasa
yang dibutuhkan, serta nyaman dengan pelayanan yang diberikan
Adanya kepuasan pelanggan ternyata juga dapat
mempengaruhi omset penjualan yang dihasilkan. Jika pelanggan merasa puas akan
suatu produk maka permintaan akan meningkat dan omset penjualan pun ikut naik,
sebaliknya jika pelanggan tidak merasa puas maka permintaan akan menurun begitu
juga dengan omset penjualannya. Hal
penting lainnya yang harus diperhatikan yaitu, pelanggan yang kurang puas
dengan suatu produk tidak akan membeli ataupun menggunakan lagi produk yang
kita tawarkan. Selain itu pelanggan yang kurang puas juga dapat menceritakan
kepada konsumen lain tentang keburukan produk yang mereka dapatkan, sehingga
dapat menimbulkan citra buruk di kalangan para konsumen.
Sumber Referensi :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar