I.
PENDAPAT MENGAPA PENTINGNYA SEORANG AKUTAN DALAM
FUNGSI MENEJEMEN DALAM SEBUAH PERUSAHAAN
Sistem
Informasi Akuntansi Manajemen sangat berperan dalam membantu manajemen untuk
pengambilan keputusan, baik keputusan strategis maupun keputusan taktis serta
pengendalian dan juga mengevaluasi kinerja suatu perusahaan. Laporan dari
bagian akuntansi dalam perusahaan dapat membantu manajer mengambil keputusan
dengan lebih bijak dan terarah, setelah keputusan diambil biasanya bagian
akuntansi akan menilai apakah keputusan itu efektif dan efisien. Walaupun
demikian, sistem informasi akuntansi yang berlaku di Indonesia sekarang masih
didominasi oleh konsep-konsep akuntansi keuangan yang lebih diarahkan untuk
menyajikan informasi pertanggungjawaban keuangan oleh manajemen kepada pihak
luar perusahaan. Dengan demikian, sistem informasi akuntansi manajemen belum
berperan dalam menyediakan informasi keuangan bagi manajemen untuk merencanakan
dan mengendalikan alokasi berbagai sumber daya dalam perusahaan.
II.
MAKNA DARI PERSAMAAN AKUTANSI
Persamaan akuntansi adalah persamaan untuk menggambarkan
hubungan antara elemen-elemen dalam laporan keuangan. Elemen-elemen laporan
keuangan yang utama ada 5, yaitu aset, kewajiban, ekuitas, pendapatan, dan
beban. Ketiga elemen laporan keuangan yang pertama (aset, kewajiban ekuitas)
berada di laporan laporan posisi keuangan (dulu dikenal dengan nama
"neraca"). Kedua elemen berikutnya (pendapatan dan beban) berada di
laporan laba rugi (dulu dikenal dengan nama "laporan rugi laba").
Pengakuan transaksi lebih mudah dilakukan apabila
pengguna memahami persamaan akuntansi.Persamaan akuntansi dapat dibedakan
menjadi 2, yaitu persamaan akuntansi dasar dan persamaan akuntansi ekstensi.
Persamaan akuntansi dasar sangat sederhana, yaitu "Aset = Liabilitas +
Ekuitas". Sementara itu, persamaan akuntansi ekstensi ada 2, yaitu
persamaan akuntansi perspektif sejarah dan perspektif IFRS. Persamaan akuntansi
ekstensi perspektif sejarah adalah "Aset + Beban = Liabilitas + Ekuitas +
Penghasilan". Persamaan akuntansi ekstensi perspektif IFRS adalah
"Aset = Liabilitas + Ekuitas + (Penghasilan - Beban)".
III.
UNSUR-UNSUR KONTINUITAS PERUSAHAAN
Unsur - unsur kontinuitas
yaitu unsur-unsur yang digunakan untuk menjaga kelangsungan hidup
perusahaan, maka pimpinan harus menjaga unsur-unsur kontinuitasnya.
Unsur - unsur kontinuitas yaitu sebagai berikut :
1.
Likuiditas, yaitu kemampuan perusahaan untuk
memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo.
Likuiditas
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu :
a.
Likuiditas extern, dimana perusahaan mempunyai kemampuan
untuk memenuhi kewajibannya dengan pihak luar.
b.
Likuiditas intern, dimana perusahaan mempunyai
kemampuan untuk menjamin proses produksinya.
Untuk melihat suatu badan usaha
likuid atau tidak, disusun suatu neraca likuiditas atau daftar likuiditas. Kemudian dihitung rasio likuiditasnya, yaitu
suatu perbandingan antara jumlah aktiva lancar dengan jumlah utang jangka
pendek, Suatu perusahaan dapat dikatakan likuid (mampu membayar hutangnya) jika
ratio likuiditasnya minimal 200%. yang dinyatakan dengan rumus :
( Ratio Likuiditas = jumlah aktiva
lancar / jumlah utang jangka pendek x
100%)
2.
Solvabilitas, adalah kemampuan perusahaan untuk
memenuhi semua kewajibannya apabila perusahaan dilikuidasi. Kewajiban tersebut
baik berupa hutang jangka panjang maupun hutang jangka pendek.
Jika rationya lebih besar dari 100%
maka perusahaan dianggap solvabel, artinya dapat membayar semua utangnya jika
pada saat itu perusahaan dilikuidasi.
Ratio solvabilitas dihitung dengan rumus :
(Ratio Solvabilitas = nilai jual
aktiva / jumlah seluruh utang x 100%)
3.
Rentabilitas, kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan keuntungan atau profit dengan sejumlah modal yang ada di dalam
perusahaan.
Rentabilitas dapat diklasifikasikan menjadi :
a.
Rentabilitas ekonomis, kemampuan perusahaan
menghasilkan laba dari keseluruhan modal yang digunakan.
Rentabilitas
ekonomis dihitung dengan rumus :
(Rentabilitas
Ekonomis = laba bersih sebelum pajak /
jumlah modal perusahaan x 100%)
Rentabilitas modal sendiri, adalah
kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dari sejumlah modal sendiri yang
digunakan.
b.
Rentabilitas modal sendiri dihitung dengan rumus :
(Rentabilitas
Modal Sendiri = laba bersih setelah pajak /
jumlah modal sendiri x 100%)
VI. RUANG LINGKUP DARI MENEJEMEN
PEMBELANJAAN DARI SUATU BISNIS PERUSAHAAN
Pembahasan tentang Ruang Lingkup
Manajemen keuangan dapat dibagi sebagai berikut :
1.
Pengertian Manajemen Keuangan
2.
Fungsi Manajemen Keuanga
3.
Tujuan perusahaan
4.
Keputusana keuangan
Untuk lebih jelasnya akan di uraikan
satu persatu dibawah ini.
1.
Pengertian Manajemen Keuangan
Untuk memahami pengertian Manajemen
Keuangan lebih di arahkan pada kegiatan Pembelanjaan perusahaan sehingga dapat
dikatakan Manajemen Keuangan sama dengan Pembelanjaan Perusahaan. Perusahaan dalam
menjalankan bisnis memerlukan aset riil
(real assets) dimana aset riil tersebut berupa Tangible assets :
1.
Aset lancar : Kas, Piutang, Persediaan
2.
Aset tetap :
mesin, pabrik, kantor, kendaraan
Dan dapat berupa aset tidak berwujud
(Intangible assets) : keahlian teknis (technical expertise) merk dagang (trade
mark), patent. Untuk mewujudkan aset
riil tersebut memerlukan modal yang dapat di peroleh bersumber pada
1.
Liability : Utang Dagang, Obligasi, Utang bank
2.
Equity :
Modal setor, Saham, Laba Ditahan
Misalkan seorang pengusaha ingin
mendirikan sebuah mini market maka untuk dapat beroperasional dia harus
mendirikan Toko (bangunan), Peralatan minimarket, peralatan administrasi
minimarket yang itu merupakan aset tetap minimarket. kemuadian dia juga harus menyediakan
barang-barang kebutuhan sehari-hari yang akan dijual (persediaan) serta dana
kas untuk membiayai operasional minimarket yang ini merupakan aset lancar
minimarket tersebut. Untuk mewujudkan
semua aset riil tersebut pengusaha itu dapat membelanjainya dengan dana yang
bersumber dari modalnya sendiri
(perseorangan) atau bermitra dengan koleganya untuk membuat persekutuan
modal (cv, firma dll) atau dapat juga
mendirikan perseroan terbatas (PT) untuk mengumpulkan modal dalam bentuk
saham.
Pengusaha tersebut juga dapat membelanjai aset-aset riilnya dengan
hutang misalnya melalui pinjaman bank, pinjaman suplier (utang dagang) atau
menerbitkan obligasi jika badan usahanya berbentuk perseroan.
Dari penjelasan di atas dapat di definisikan Manajemen Keuangan atau Pembelanjaan merupakan kegiatan yang berhubungan dengan
usaha-usaha mendapatkan dana perusahaan serta usaha untuk menggunakan dan
mengalokasikan dana tersebut secara efisien.
Seorang manajer keuangan tidak hanya
bertugas mencatat, membuat laporan, mengendalikan posisi kas, membayar
tagihan-tagihan dan mencari dana, tetapi lebih
dari itu harus mampu menciptakan
kekayaan perusahaan melalui kegiatan mencari sumber dana dan mengalokasikannya.
Dalam Manajemen keuangan kegiatan
mencari sumber dana dapat di sebut sebagai pembelanjaan Pasif dan kegiatan
mengalokasikan dana disebut sebagai pembelanjaan Aktif.
2.
Fungsi Manajemen Keuangan
Berdasarkan pengertian Manajemen
Keuangan di atas dapat di sebutkan 2 (dua) fungsi Manajemen Keuangan yaitu :
1.
Fungsi Penggunaan Dana (Alokasi)
2.
Fungsi Pendanaan (mencari sumber dana)
Dalam menjalankan fungsi-fungsi
tersebut melibatkan fungsi-fungsi lain (pemasaran, Produksi, Akuntansi dll).
Baik fungsi pengalokasian dan pendanaan didasarkan pada pertimbangan efesiensi
dan efektivitas. Prinsip Efesiensi
dalam pengalokasian dana berorientasi bahwa penggunaan dana pada investasi
usaha diharapkan memberi keuntungan di masa yang akan datang, sedangkan pada fungsi pendanaan bagaimana
perusahaan mencari sumber modal dengan prasyarat dan biaya yang
semurah-murahnya.
3.
Tujuan Perusahaan
Efesiensi dan efektifitas dalam
pembelanjaan perusahaan harus berorientasi pada tujuan perusahaan. Untuk itu perlu merumuskan dengan benar apa
yang menjadi tujuan mendirikan sebuah perusahaan. Dalam beberapa teori disebutkan tujuan
perusahaan adalah mencari keuntungan , pendapat tersebut tidak salah tetapi
belum tepat, karena jika hanya dirumuskan mencari keuntungan (Laba) maka banyak
kekurangan yang terdapat di dalamnya.
Tujuan perusahaan yang hanya mengejar Keuntungan akan mengabaikan faktor
waktu dan ketidakpastian. Jika hanya
mengejar keuntungan tahun ini, perusahaan dapat mengurangi biaya-biaya
penelitian dan pengembangan produk, biaya-biaya pelatihan SDM dll, akibatnya
perusahaan memperoleh keuntungan tetapi untuk tahun-tahun mendatang tidak dapat
dipastikan apakah perusahaan memperoleh keuntungan.
Mengukur kinerja perusahaan dengan
keuntungan saja tidak dapat menggambarkan kinerja yang sesungguhnya,
misalkan ada 2 perusahaan, perusahaan A dengan modal 100 juta menghasilkan
keuntungan 25 juta , perusahaan B dengan modal 80 juta menghasilkan keuntungan
20 juta. Maka return perusahaan A = 25% (25 juta : 100 juta) dan return
perusahaan B = 25% (20 juta : 80 juta), dengan deemikian perusahaan B memiliki
kinerja yang lebih baik karena dengan modal yang lebih kecil menghasilkan
tingkat keuntungan yang sama dengan perusahaan A.
Tujuan perusahaan dalam konteks
manajemen keuangan lebih di arahkan pada
menciptakan kekayaaan perusahaan atau maksimalisasi kekayaan perusahaan. Meningkatkan kekayaaan perusahaan akan
meningkatkan kekayaan pemilik perusahaan. Seorang pengusaha yang membuka Toko
minimarket dengan modal 500 juta berharap nantinya nilai kekayaan usahanya akan
meningkat lebih dari 500 juta setelah beberapa tahun akan datang.
Namun pertanyaannya apakah tujuan
perusahaan itu hanya mensejahterakan pemiliknya saja ? Perlu di ingat perusahaan melibatkan
pihak-pihak lain yang juga berperan dan berkepentingan terhadap perusahaan.
Apalagi jika perusahaan tersebut dengan skala usaha yang lebih besar maka
pihak-pihak lain dalam hal ini disebut sebagai stakeholders wealth juga perlu
disejahterakan terlebih dahulu sebelum pemiliknya (share holder wealth)
disejahterakan. Siapa saja yang disebut
sebagai stakeholders wealth tersebut
? Antara lain sebagai berikut :
Manajemen dan Karyawan sebagai ujung
tombak perusahaan, mereka di sejahterakan dan dibayar dengan penghasilan yang sesuai dengan
pekerjaan dan kualifikasinya masing-masing.
karyawan berkerja dengan nyaman, tanpa tekanan dan berhak memperoleh
promosi karir secara berjenjang jika memiliki prestasi kinerja yang baik.
Kreditur, sebagai pihak lembaga
pemberi pinjaman berhak mendapatkan keamanan lancarnya kredit yang diberikan
dan memperoleh pendapatan atas kredit yang diberikan (bunga, bagi hasil dll)
Konsumen sebagai pengguna barang
/jasa memperoleh kepuasan yang setimpal atas nilai yang dibayarkan pada produk
yang dibeli.
Pemerintah, memperoleh pendapatan
pajak atas keuntungan usaha perusahaan.
Masyarakat turut merasakan
kesejahteraan dari keberadaan perusahaan dalam bentuk pertanggungjawaban sosial
perusahaan. Program pertanggung jawaban
sosial bisa berbentuk pendidikan (bea siswa), pengembangan UKM (kredit lunak),
bantuan bencana alam, produk yang ramah
lingkungan dll.
Jika para stake holder di atas telah
di sejahterakan, maka klaim terakhir bagi perusahaan adalah mensejahterakan
pemiliknya. Sebuah resiko yang di beban
pemilik perusahaan bahwa pemegang saham memperoleh klaim terakhir dari
keuntungan yang diperoleh perusahaan.
Begitu juga seandainya perusahaan di likuidasi, maka pembayaran hak didahulukan dulu utntuk membayar
kewajiban-kewajiban perusahaan seperti gaji karyawan yang tertunda, utang-utang
dengan pihak kreditur, utang-utang lainnya baru setelah selesai semua, sisanya
di bagi untuk pemilik saham, sesuai proporsi kepemilikannya.
Namun jika pengeloaan perusahaan
dilakukan dengan baik dan meningkatkan value perusahaan tentunya memberikan
pengembalian (return) bagi para investor yang lebih besar tingkatnya dibanding
para stake holder. Sesuatu yang lumrah
karena investor berhadapan dan memiliki resiko yang besar.
Untuk dapat memaksimalkan dan
meningkatkan kekayaan perusahaan sangat ditentukan oleh keputusan-keputusan
keuangan Perusahaan.
4.
Keputusan Keuangan
Keputusan keuangan yang tepat
berdampak pada value perusahaan, sebagaimana dijelaskan di atas bahwa keputusan
keuangan harus berorientasi pada tujuan perusahaan yaitu meningkatkan value
perusahaan. Ada 3 (tiga) keputusan
keuangan yaitu sebagai berikut :
1. Keputusan Investasi
Keputusan investasi adalah masalah
bagaimana manajer keuangan harus mengalokasikan dana ke dalam bentuk-bentuk
investasi yang akan dapat mendatangkan keuntungan di masa yang akan
datang. Bentuk, macam, dan komposisi
dari investasi dari investasi tersebut akan mempengaruhi dan menunjang tingkat
keuntungan di masa depan. Keuntungan di
masa depan yang diharapkan dari investasi tersebut tidak dapat diperkirakan
secara pasti. Oleh karena itu investasi
akan mengandung resiko atau ketidakpastian.
Resiko dan hasil yang diharapkan dari investasi ini akan mempengaruhi
pencapaian tujuan, kebijakan maupun nilai perusahaan
2. Keputusan Pendanaan
Keputusan pendanaan ini sering
disebut sebagai kebijakan struktur modal.
Pada keputusan ini manajer keuangan dituntut untuk mempertimbangkan dan
menganalisis kombinasi dari sumber-sumber dana yang ekonomis bagi perusahaan
guna membelanjai kebutuhan-kebutuhab investasi serta kegiatan usahanya.
3.
Keputusan Dividen
Dividen merupakan bagian keuntungan
yang dibayarkan oleh perusahaan kepada para pemegang saham. Oleh karena itu dividen ini merupakan bagian
penghasilan yang diharapkan oleh pemegang saham. Keputusan dividen merupakan keputusan
manajemen keuangan untuk menentukan ; deviden tunai, stabilitas deviden, dividen saham (stock
deviden), pemecahan saham (stock split), penarikan kembali saham yang beredar
(repurchase stock), yang semuanya ditujukan untuk meningkatkan kemakmuran para
pemegang saham.
DAFTAR PUSTAKA :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar